Beker Community Blog

YOO Together We Do Our BEST

Mewaspadai Bahaya Lain Ponsel September 18, 2008

Filed under: Artikel,GENERAL — beker07 @ 06:13
Tags:

Mewaspadai Bahaya Lain Ponsel

Kebanyakan pengguna hand-phone mestilah telah mengetahui tentang adanya radiasi pancaran sinyal radio – jenis “non-ionizing radiation” – dari antena telepon selular yang diduga dapat menjadi gangguan yang membahayakan kesehatan jaringan otak pemakai hp, walau sejauh ini efek bahaya yang sesungguhnya masih merupakan kontroversi dan masih terus dalam penelitian yang mendalam.
Namun adanya bahaya lain yang lebih serius karena cakupan efeknya yang lebih luas dari pada sekedar bahaya bagi kalangan pengguna telepon selular saja agaknya belum menjadi beban pemikiran kebanyakan pengguna hand-phone, yakni bahaya pencemaran lingkungan yang diakibatkan akumulasi material sampah dari komponen perangkat hand-phone dan dibuang begitu saja jika telah usang . Timbunan komponen logam beracun – timbal ( lead ) , mercury, dll – serta plastik yang terdapat dalam sampah telepon seluler kini tengah mengintai menjadi bahaya serius yang dapat menggerogoti kelestarian lingkungan hidup manusia.
Telepon seluler memang hanyalah salah satu dari sekian perangkat elektronik rumah tangga masa kini yang timbunan sampahnya dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan. Sampah barang elektronik seperti ; batere, pesawat TV, Video recorder, komputer, maupun PDA-Personal Digital Assistant atau “komputer saku” pun mengandung komponen yang terbuat dari material logam dan plastik, yang jika sampahnya ditimbun terus menerus dan tidak diproses dengan seksama dapat merupakan ancaman serius bagi lingkungan hidup manusia.
Pemikiran agar dunia industri barang elektronik dapat menghasilkan produk yang lebih ramah terhadap lingkungan di Eropa dengan menerapkan konsep daur ulang (re-cycle) masih tengah dipersiapkan guna dapat diterapkan pada tahun 2004 y.a.d.

Negera Jepang malah telah selangkah lebih maju ketika sejak awal April 2000 y.l. telah mewajibkan kalangan produsen elektronik (TV, lemari es, AC, dll ) untuk menambahkan proses re-cycling di setiap pabrik sebelum barang elektronik yang usang boleh diafkir menjadi buangan sampah. Ketentuan di Jepang metetapkan bahwa proses daur ulang guna dapat diolah kembali menjadi komponen pada produksi barang yang baru – nilainya bervariasi antara 50% – 60% dari bobot setiap produk. Jika diuangkan jumlah itu setara dengan tambahan ongkos produksi senilai AS $ 18 – 36 per unit produk.

Salah satu negara di Eropa yang telah mewaspadai mengenai ancaman sampah elektronik dari material bagi lingkungan hidup adalah Jerman. Menurut data statistik Uni Eropa tahun 2001 y.l. untuk negara Jerman saja setiap tahunnya akan mendapati sekitar 2 juta ton sampah elektronik yang sementara ini baru hanya 10% dari total jumlah itu menjalani proses daur ulang dengan upaya sortir. Sebanyak 90% sisanya ditimbun berupa land-fill – semacam bahan urugan tanah- ataupun diproses dalam instalasi pemrosesan pembakaran sebelum dibuang sebagai sampah.

Percepatan yang terbilang luar biasa akumulasi sampah elektronik tergambarkan dari pengguna telepon seluler di seluruh dunia tahun 1999 adalah sekitar 480 juta, dan jumlahnya akan membengkak menjadi 1 milyar pada tahun 2003 y.a.d. Dengan mengasumsikan bahwa usia pakai produk antara 1 -2 tahun, maka diperkirakan akan terdapat 500 juta perangkat telepon seluler yang setiap tahunnya akan dibuang ke tempat sampah. Sebuah unit perangkat hand-phone dengan komponen dari material timbal ( lead ), tembaga, dan logam mercury secara satuan hitungannya mungkin terbilang kecil, namun dengan memperhitungkan jumlah keseluruhan perangkat telepon seluler berupa timbunan sampah yang berjuta ton tentunya memang menjadi ancaman yang serius bagi kelestarian lingkungan hidup di seluruh dunia.
Salah satu upaya guna menjadikan industri elektronik di Jerman dapat menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan telah dilakukan IZM Fraunhofer Institute di Berlin, diantaranya dengan terus bekerja sama bersama kalangan Litbang industri guna merumuskan TPI-Toxic Potential Indicator disamping melakukan riset guna mengembangkan teknik dan metode yang selaras dengan tuntutan kelestarian lingkungan hidup. Data TPI misalnya berisikan index tinggi potensi bahaya kandungan racunan dari material logam komponen telepon seluler.
Riset IZM Fraunhofer Institute juga menghasilkan temuan solder dari amalgam campuran yang terdiri atas material tin-silver-coper sebagai alternatif pengganti solder dengan bahan dasar timbal yang berdaya cemar yang sangat tinggi terhadap lingkungan hidup. Dengan menerapkan kaidah serupa itu maka produk telepon seluler bebas timbal atau “lead-free cellphones” buatan Jerman dapat diwujudkan dengan segera.

Bagi pengguna telepon selular Indonesia yang pertumbuhan pasarnya terbilang cukup tinggi di kawasan Asia Pasifik, maka cepat atau lambat tentu akan menghadapi ancaman timbunan sampah produk elektronik yang dapat membebani lingkungan hidup.
Menurut data Asosiasi Telepon Seluler Indonesia sejak April 2002 y.l. jumlah pelanggan telepon seluler mencapai 7,4 juta dengan 44% diantaranya berada di wilayah Jabotabek. Dengan angka ini berarti jumlah pelanggan telepon selular akhirnya kini melampaui jumlah sekitar 7 juta pelanggan “telepon rumahan” ( fixed telephone lines ).
Pesatnya dorongan meningkatnya penggunaan telepon seluler juga mesti mengingat karakteristik sebagian tertentu pengguna hp masa kini di Asia – termasuk Indonesia – yang menganggap perangkat hand-phone layaknya bagai “fashion” hingga merasa perlu cukup sering untuk berganti model dalam jangka waktu relatif singkat.

Hal ini dapat dicermati dari survey pada paruh pertama tahun 2002 oleh Majalah Info Komputer – atas 660 responden dengan lebih dari separuhnya berdomisili di Jabotabek – yang menunjukkan temuan bahwa; pilihan model yang trendy adalah kriteria yang dinilai cukup tinggi jika dibanding dengan fungsionalitas dalam memilih telepon selular – Persentase perbandingannya 13,87% : 25,50%.
Selain bahwa merek ponsel idaman yang menjadi favorit pilihan pengguna hp adalah produk keluaran Nokia sebanyak 38,64 %, produsen yang dalam setahun bisa menawarkan sampai belasan model baru berdasar seri klasifikasi tertentu.

Agaknya dalam menyambut kewajiban pemberlakuan proses daur ulang dalam produksi telepon selular, maka produsen Motorola yang mengklaim telah siap dengan produk telepon seluler masa depan yang 85% komponennya dari material yang siap didaur ulang boleh dipandang sebagai salah satu yang terdepan guna menghasilkan produk telepon seluler yang ramah lingkungan atau “greenphone”. Hanya sayang produk buatan AS yang penggunanya cukup popular dan meluas saat pertama kali layanan telepon seluler -khususnya untuk model pertama telepon yang terpasang dalam mobil – mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar 10 tahun y.l., semakin kini menjadi semakin tenggelam di pasaran dan menurut survey terakhir hanya menyisakan 1,52 % pemakai hp.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.